Pengertian Broken Home Serta Penyebab dan Dampaknya Bagi Anak

3 View
Pengertian Broken Home Serta Penyebab dan Dampaknya Bagi Anak

Istilah broken home kerap digunakan untuk menggambarkan sebuah keluarga yang tidak harmonis ataupun anak yang ditinggal orangtuanya akibat perceraian atau hal lainnya. Untuk memahami lebih jauh seputar masalah ini, berikut adalah penjelasan seputar arti broken home, penyebab, dan dampaknya bagi anak-anak. 

Pengertian Broken Home?

Berdasarkan kamus American Psychological Association (APA), arti broken home adalah rumah tangga yang dipimpin orangtua tunggal akibat perceraian atau suami-istri yang memutuskan untuk berpisah. 

Selain itu, broken home bisa diartikan sebagai rumah tangga yang tidak lagi berfungsi sebagai satu kesatuan keluarga. 

Perlu dipahami, broken home tapi tidak cerai pun bisa terjadi. Sebab, istilah tersebut sejatinya mengacu kepada disfungsi keluarga.

Penyebab Broken Home

1. Kekerasan

Dilansir dari Very Well MInd, sebuah keluarga dapat tidak berfungsi dengan baik jika ada kekerasan seksual, fisik, ataupun emosional di dalamnya. 

Perlu diwaspadai, anak-anak yang terpapar dengan kekerasan dianggap lebih berisiko mengalami masalah emosional dan perilaku. 

2. Gangguan kesehatan mental

Adanya masalah gangguan kesehatan mental yang dialami salah satu anggota keluarga juga bisa memicu rusaknya rumah tangga.

Maka dari itu, penting untuk mengatasi gangguan mental terlebih dahulu sebelum berusaha memperbaiki hubungan yang rusak dalam keluarga.

3. Masalah finansial

Masalah finansial juga bisa menyebabkan broken home. Untuk menyiasatinya, kamu dan pasangan dianjurkan untuk lebih terbuka dan jujur perihal masalah keuangan agar bisa diselesaikan bersama-sama. 

4. Perbedaan pendapat

Perbedaan keyakinan atau pendapat mengenai politik, agama, hingga isu lainnya berpotensi memantik masalah dalam rumah tangga.

Masalah ini bisa semakin besar jika perbedaan tersebut membuat kamu maupun anggota keluarga berperilaku tidak baik atau tidak menghormati satu sama lain. 

5. Melanggar batasan yang ditetapkan

Melewati batasan yang telah ditetapkan dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Ini khususnya berlaku untuk anggota keluarga yang dekat, misalnya orangtua dan saudara kandung. 

Atas dasar itu, sangat penting untuk memastikan bahwa pasangan, orangtua, atau anggota keluarga lain memahami batasan yang kamu buat. 

Dengan begitu, mereka bisa memahami hal-hal apa yang dapat menyinggungmu. 

6. Orangtua yang terlalu mengontrol

Sifat terlalu mengontrol yang ditunjukkan orangtua kepada anak-anaknya dapat memicu masalah dalam rumah tangga. Terlebih jika terlalu sering ikut campur dapat berdampak negatif pada kehidupan pribadi atau hubungan yang dimiliki anak-anak.

Agar kesalahpahaman bisa dicegah, kamu sebaiknya memberi tahu orangtua bahwa sifat mereka yang terlalu mengontrol dapat berdampak buruk bagi kehidupanmu.

7. Menolak minta maaf

Membuat kesalahan adalah hal yang dimaklumi ketika menjalin rumah tangga. Akan tetapi, apabila seorang suami, istri, atau anak menolak minta maaf atas kesalahannya, ini dapat menimbulkan masalah besar bagi keluarga, terutama jika penolakan itu tidak didasari alasan yang jelas. 

Dampak Broken Home Bagi Anak

1. Dampak emosional

Setelah ayah dan ibunya berpisah, anak broken home yang masih duduk di bangku prasekolah hingga usia remaja akhir dapat mengalami gangguan pada perkembangan emosionalnya. 

Di samping itu, anak dari segala usia yang menjadi korban dari broken home dapat terus menangis dan tertekan selama beberapa tahun setelah orangtuanya berpisah. 

Di sisi lain, ada pula anak yang hanya sedikit menunjukkan reaksi emosional terhadap perceraian ayah dan ibunya. 

Dilansir dari The News, anak-anak yang tidak banyak menunjukkan respons emosional sebenarnya memendam perasaan negatif. 

Tekanan emosional ini berpotensi menyulitkan orangtua, guru, atau terapis untuk membantu anak dalam memproses perasaan sesuai dengan perkembangannya. 

2. Dampak pendidikan

Perkembangan akademis yang lambat adalah salah satu dampak broken home yang umumnya dialami anak-anak. 

Stres yang dirasakan anak karena perceraian orangtua juga dapat menghambat progres akademis mereka. 

Parahnya lagi, perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga akibat broken home bisa berkontribusi terhadap hasil pendidikan yang buruk.

3. Dampak sosial

Dampak sosial dari perceraian dapat mempengaruhi anak-anak dalam beberapa cara. 

Pertama, sebagian anak bisa berperilaku agresif dan melakukan perundungan (bullying) untuk melampiaskan perasaan stres yang mereka alami. Ini dianggap dapat berdampak buruk pada hubungan teman sebaya. 

Kemudian, ada juga anak-anak yang mengalami gangguan kecemasan sehingga menyulitkan mereka berinteraksi secara positif dan terlibat dalam kegiatan yang baik untuk tumbuh kembangnya, misalnya olahraga. 

Selanjutnya, remaja dari keluarga broken home dapat mengembangkan sikap sinis terhadap hubungan dan memendam perasaan tidak percaya, baik kepada orangtua maupun calon pasangan di masa depan. 

4. Dampak terhadap dinamika keluarga

Perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga, tapi juga dinamikanya. 

Sekalipun kamu dan pasangan berhasil melalui proses perceraian dengan damai, menciptakan dua rumah tangga baru akan berdampak pada interaksi dan peran keluarga secara permanen. 

Alhasil, anak-anak mungkin perlu melakukan lebih banyak tugas dan mengemban peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga. 

Ada juga kemungkinan di mana anak yang lebih dewasa menjalani peran layaknya orangtua ketika berinteraksi dengan adik-adiknya. 

Cara Mengatasi Broken Home

1. Perhatikan kesehatan mental

Salah satu cara untuk bangkit dari keterpurukan akibat rumah tangga yang berantakan adalah menjaga kesehatan mental. 

Sebelum kamu berdamai dengan anggota keluarga, periksakan kesehatan mental dirimu terlebih dahulu dan pastikan dirimu telah siap. 

Apabila kamu merasa belum siap secara mental, sebaiknya tunda dulu keinginan untuk memperbaiki hubungan. 

Sebab, mencoba memaksakan sesuatu terlalu cepat sering kali menyebabkan kegagalan dan kekecewaan. 

2. Lepaskan amarah

Menyimpan rasa dendam dan amarah dapat merampas kedamaian batin dari dalam dirimu. 

Oleh karena itu, cobalah singkirkan kedua perasaan negatif itu, sekalipun orang yang membuatmu kesal belum meminta maaf. 

Memaafkan adalah langkah pertama yang perlu ditempuh untuk menuju penyembuhan. Dengan melakukannya, kamu diharapkan bisa mendapatkan kebahagiaan. 

3. Tetapkan ekspektasi yang realistis

Ketika kamu berusaha memperbaiki hubungan yang rusak, tetapkan ekspektasi yang realistis. 

Berusahalah untuk tetap optimis, tetapi jangan menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi. 

Ini bertujuan untuk menghindari frustrasi dan kekecewaan apabila kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasimu. 

4. Minta bantuan ahli psikologi atau kesehatan mental

Jika kamu atau anggota keluarga lain tidak mampu menyelesaikan konflik, jangan putus asa. 

Ada terapis atau sosok lain yang siap membantu dalam mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik keluargamu. 

Selain itu, bersepakat untuk datang ke terapis atau psikolog bersama-sama adalah langkah besar yang menunjukkan bahwa kamu dan pasangan telah berkomitmen untuk memperbaiki hubungan.